Apalagi yang diharapkan dari anak tak beribu dan tak berbapak?
Duduk di sudut kamar tertegu dengan banyak bening yang bergulir di pelupuk mata. Tak ada kosakata terdengar karena saking kuatnya getaran di dada yang begitu sesak. Memori demi memori datang silih berganti di kepala akan sosok penopang hidup seorang anak. Harapan akan adanya penopang hidup lagi terus berkecamuk di hati. Tapi apa daya, Ekspektasi tidak selaras dengan implementasi. Si anak tetap duduk sendiri di sudut kamar hingga bibirnya bergetar bagai diterjang tsunami kesendirian. Meradang dalam hati. Berteriak dalam kesepian. Mengaung dalam kehampaan. Memelas dalam kesedihan. Tanda tanya pun selalu ada di benak sang anak, "Kenapa ayah dan ibu tidak bersamaku untuk waktu yang lama?"
Lalu, jika sudah begini, apalagi yang diharapkan dari anak tak beribu dan tak berbapak? Melakukan ini-itu tanpa petunjuk. Ingin ini-itu harus berusaha sendiri tanpa dibantu. Tak seperti anak lainnya, si anak itu harus bisa berdiri lebih tegak lagi sendirian untuk hal ini-itu. Dengan begitu, apalagi yang diharapkan dari anak tak beribu dan tak berbapak? Tapi si anak tetap semangat untuk menata kehidupan yang lebih baik, karena kata sang penopang hidup, "Tetaplah bersinar menyinari yang lainnya meski sendirian." Demikian, isi cerita anak tak beribu dan tak berbapak yang bukan sekedar mengharapkan....
Dari aku, si anak yang tak beribu dan tak berbapak.
Rabu, 28 Juni 2017
Minggu, 01 Juni 2014
Untuk kamu
Ketika harus bertahan di tengah situasi yang tidak pernah kamu bayangkan, kamu hanya bisa berdiam diri dan tertunduk nestapa mengaharapkan bahwa situasi ini hanyalah fatamorgana yang tidak nyata. Tapi apa daya, ini nyata, bukan fatamorgana yang cuma fiktif belaka.
Di dalam relung hati yang terdalam, kamu masih sangat berharap bahwa ini tidak nyata. Saat situasi seperti ini, kamu tidak pernah menyangka akan ada wanita lain di samping ayahmu selain ibumu. Iya, wanita lain selain ibumu. Wanita asing yang tiba-tiba hadir di antara kamu dan ayahmu. Hatimu sebagai anak, sekejap porak-poranda bagai diterjang tsunami. Wanita itu hadir bukan karena ayahmu mendua cinta, bukan juga karena jenuh akan pesona ibumu yang indah seperti rona pelangi. Wanita itu hadir ketika ibumu harus pergi ke tempat yang jauh meninggalkan ayahmu dan kamu sendiri. Perginya sangat-sangat jauh. Kamu terdiam. Kamu tertunduk. Banyak bening yang bergulir di pelupuk matamu ketika dia pergi. Kamu duduk terpaku di sudut kamar memeluk rasa kehilangan dengan bibir yang gemetar. Tatapan kosong terus seirama dengan bergulirnya bening di pelupuk mata yang membasahi pipi. Kamu tenggelam dalam kerapuhan saat ibumu pergi. Hanyut dalam gelombang arus kehampaan dan nestapa yang deras. Terombang-ambing di samudera yang penuh dengan air mata kesedihan. Mencoba menerjang gelombang arus, tetapi malah enyah di laut kehilangan.
Dan kini, kamu hanya bisa bertemu dengannya dalam pejam. Dalam pejam, kamu masih sangat berharap bahwa kamu bisa bertemu dia setiap saat seperti dulu. Bisa berbagi suka dan duka seperti dulu. Tapi, Tuhan tetap tidak sependapat denganmu. Ibumu tetap meninggalkanmu. Meninggalkan kamu sendirian di usia yang sangat haus akan belai kasih sayang sesosok “Ibu.” Kamu ingin berontak kepada Tuhan. Berontak seperti ombak laut yang menerjang batu karang. Masa krusial pun dimulai dengan kepergian ibumu. Air mata dan sesak di dada mulai akrab di kehidupanmu. Tersenyum bahkan tertawa di kala dada sesak dengan kesedihan sudah menjadi sahabat karibmu.
Di tiap hembusan napasmu, ibu selalu ada dalam memori ingatanmu. Memori dimana kamu masih bisa tersenyum dan menangis bersamanya. Setiap detik kehidupan yang kamu jalani, tidak henti-hentinya kamu mendoakannya supaya tidak merasakan nestapa seperti kamu sekarang. Berdoa agar ibumu tidak kesepian dan selalu tersenyum di sana. Kali ini, kamu berharap bahwa Tuhan sependapat dengan doamu akan ibumu.
Tapi percayalah, ibumu tidak benar-benar meninggalkanmu. Dia hanya pergi ke suatu tempat yang elok untuk melihat senyumanmu dari sana. Dia ingin melihat buah hatinya bisa mandiri dan mengukir prestasi tanpa belas kasihan dan ulur tangan orang lain. Dia sadar bahwa kamu bisa bersinar seperti mentari pagi yang menggantikan kegelapan meski sendirian tanpa hadirnya. Percayalah, ibumu selalu memerhatikanmu dan mendukungmu dari kejauhan sana. Dia selalu ada di sampingmu meski kamu tidak menyadarinya. Dia lebih dekat dari urat nadimu sendiri. Ibumu sangat menyayangimu. Teramat menyayangimu.
Untuk kamu yang ditinggal Ibunya, seperti aku.
Kamis, 13 Maret 2014
Menawarlah
Tawar-menawar
adalah hal yang nggak bisa terpisahkan dari transaksi jual beli. Nggak ada
tawar-menawar saat transaksi jual beli, seperti nggak naik wahana saat ke
dufan. HAMBAR. Yap, buat gue, melakukan tawar-menawar saat transaksi jual beli adalah
hal yang mutlak gue lakuin, kecuali belanja di supermarket. Menawar di supermarket
hukumnya adalah haram, karena harga yang dibandrol nominalnya udah mutlak.
Sedangkan di tempat lainnya kecuali supermarket,
kesempatan untuk belanja dengan harga anjlok masih terbuka lebar.
Kata Bokap gue, “Nawarlah harga seanjlok mungkin dengan
memasang tampang se-madesu mungkin.” Ya…, itulah prinsip yang dipegang
teguh oleh Bokap gue tiap belanja apapun. Makanya nggak heran, tiap belanja
bareng dia, muka gue jadi mirip lansia karena harus memasang tampang madesu. Bokap
gue, emang pria unyu yang lihai dalam mempermainkan harga belanjaan seanjlok
mungkin. Karena buah tidak jauh jatuh dari pohonnya, sikap Bokap yang lihai
dalam mempermainkan harga belanjaan pun tertular kepada gue, anaknya. Tapi, gue
sama Bokap itu beda prinsip dalam menawar harga.
Gue punya
prinsip yang nggak mengharuskan gue memasang tampang se-madesu mungkin. Prinsip
gue, “Menawarlah dengan senyuman dan buatlah
permisalan.”
Nih, buat kalian
yang mau menawar harga belanjaan, bisa di praktekkin. Asal, sebelum praktek
baca bismillah dulu, ya. Ini Contoh dari prinsip gue itu yang bertolak belakang
dengan prinsip Bokap >>
“Bang, tempat HP
yang kulit ini, berapa?” Tanya gue.
“Rp. 120.000,
dek.” Jawab Abang jualan.
Kalo harganya
cukup bikin shock, lo harus tetep stay cool dan tersenyum meski rasa galau
buat jadi beli berkecamuk di dada. Jangan memasang tampang madesu! Jangan!
“Oh, segitu ya,
Bang?” (Senyum 5 jari)
Ingat, tiap
ngomong apapun jangan lupa senyum.
“Iya, mau yang
mana, Dek?”
“Nanti dulu.
Emang nggak bisa kurang, Bang?”
“Bisa kok, jadi
Rp. 115.000 deh, tuh.”
“Cuma kurang
goceng, mana terasa, Bang? Rp. 80.000 aja, ya Bang?” (Senyum 7 jari)
“Maaf Dek, nggak
bisa. Harganya udah segitu.”
Meskipun penjual
udah ngomong begitu, lo jangan sampai pantang arah, karena sebenarnya dia ingin
tau seberapa tingginya kesungguhan kita dalam membeli barang yang kita incar. Never give up! Teruslah menawar sampai
hembusan napas terakhir.
Ini prinsip gue
yang sangat mematikan harga, yaitu buatlah permisalan.
“Bang, kurangin
dong harganya. Coba Abang bayangin, kalo punya adek yang masih sekolah, yang
duit jajannya pas-pasan pengen beli sesuatu dengan duitnya sendiri tanpa minta
ke orang tua, tapi ternyata pas beli duitnya kurang. Padahal dia pengen banget
beli sesuatu yang dipengennya itu, tapi Cuma karena harga, dia jadi harus nggak
jajan lagi buat beli yang dipengennya itu. Gimana perasaan Abang, kalo punya adek
kayak gitu?”
“Ya, kasian,
sih. Hmm, Rp. 85.000 deh ya, Dek?”
“Mau tetap Rp
80.000 atau berubah jadi Rp 70.000, Bang?”
“Yah, jangan
dong. Yudah deh, Rp. 80.000.”
Nah, saat harga
yang kita bandrol tercapai, jangan lupa bertanya tentang keikhlasannya supaya
nggak ada rasa nggak enak hati dalam diri kita nanti karena menawar dengan
harga anjlok.
“Fix, ya? Ikhlas nggak nih, Bang?”
“Iya, iya,
ikhlas.”
“Makasih, Bang.
Semoga adek abang nanti cepet sukses dan abang panjang umur. Sekali lagi, makasih
ya, Bang.”
“Iya, iya,
amiiin.”
Mengucapkan
terima kasih dan mendoakan yang baik-baik ke penjual, juga sangat penting jika
kita meraih harga yang kita inginkan. Dengan prinsip
gue itu, gue sukses mendapatkan belanjaan yang gue incar dengan harga miring.
Kalaupun
nantinya, lo udah praktekkin prinsip gue ini tapi harga yang lo inginkan belum
tercapai, berarti lo harus banyak istighfar dan sabar. Mungkin, itu emang belum
rezeki. Atau mungkin juga, senyuman lo belum lebar, makanya nggak tercapai.
Kelihaian gue
dalam menawar belanjaan, membuat teman-teman gue memanfaatkan gue sebagai
senjatanya saat shopping.
Mereka adalah
orang-orang yang memanfaatkan kelihaian menawar gue.
Umur : Allah yang menentukan
Status : Terjebak
di hati Kak Rahman
Hobi : Menonton
majalah
“Berteman sama
Nurul itu sangat menguntungkan. Kalo gue belanja bareng dia, dia akan berjuang
kekeh buat beli barang dengan harga semurah-murahnya. BELANJA? YA, AJAK NURUL!
:D”
Nama : Novi
Lamria
Umur : Menuju
1 kodi
Status : Duta
Jomblo Jabodetabek
Hobi : Mewarnai
wajah
“Gokil, nggak
salah gue ngajak Nurul belanja. Sekalinya nawar, udah nggak inget harga. Harga
jadi miring, semiring otaknya :p wkwk. Tapi, nggak nyesel deh, gara-gara Nurul
gue bisa dapet tas dan kalung yang super duper unik. Haha THANKS RUL :D”
Umur : Masih
polos kok :3
Status : Korban
PHP Aziz Gagap
Hobi : Menghitung
harapan palsu yang datang
“Kalo belanja
sama Nurul itu, nggak perlu nunggu diskon, karena Cuma ada 2 kemungkinan yang
terjadi. Yang pertama, lo bakal dapet barang bagus
dengan harga diskon, dan yang kedua, lo bakal dapet timpukan kalkulator dari abangnya. HAHAHA. Jadi, walaupun nggak dapet barang, minimal lo dapet
kalkulator. Kan lumayan, buat dijual xD”
Oke, oke, yang
perlu kalian ketahui, gue nggak pernah ditimpuk kalkulator, lho ya. Nggak
pernah. Itu hanya fiktif belaka yang timbul dari angan-angan temen gue, yang
korban PHP Aziz itu -__-
Intinya,
menawarlah sebelum menawar itu dilarang…
Minggu, 09 Maret 2014
Never Give Up
Akhir-akhir ini,
gue mulai rajin dalam menulis untuk diposting
ke blog. Ini karena buku yang lagi gue garap udah 80% siap, untuk gue kirim ke publishing yang gue incar. Gue Cuma
tinggal mengoreksi dan melengkapi perlengkapan naskah lainnya, seperti biodata,
sinopsis, informasi tambahan tentang naskah, dll. Oleh sebab itu, gue bisa
meluangkan waktu menulis untuk diposting
ke blog. Sejak awal punya blog sampai gue masih fokus berkutat dengan menulis
buku gue, postingan di blog gue, itu-itu mulu dan nggak bertambah. Tapi,
setelah menemukan titik terang dan menunaikan hasrat gue dalam menulis buku
komedi hampir selesai, gue kembali lagi di dunia blog. At least, dengan menulis untuk diposting ke blog, gue bisa melatih diri gue lebih baik lagi dalam
mengukir kata.
Bicara soal buku
gue yang hampir selesai, gue jadi flash
back tentang perjalanan penulisan buku ini sampai sekarang. Gue memulai
menulis buku, sejak gue lulus SMA. Awalnya, gue nggak yakin gue akan bisa
menulis berlembar-lembar seperti sekarang, soalnya ilmu kepenulisan gue itu
masih cetek. Gue masih buta banget tentang kepenulisan. Tapi, sahabat-sahabat
gue, selalu men-support gue yang
membuat semangat gue meningkat. Saat gue mengembangkan ide yang ada dan menulis
outline, gue masih belum berpikiran
untuk menerbitkan tulisan gue ini. Gue sadar, gue itu Cuma anak SMA yang baru
lulus dan tulisan gue masih di bawah rata-rata. Jadinya, saat menulis buku waktu
itu, gue Cuma ingin menuangkan apa yang ada di pikiran gue lewat jemari gue
dalam menulis. Sampai akhirnya, gue membaca buku gue yang udah gue tulis mentah
selama 2 bulan, cukup membuat gue nggak percaya kalo gue bisa menyelesaikan
buku ini dalam waktu 2 bulan. Ya… gue nggak percaya aja, soalnya gue pernah
baca, kalo waktu untuk menyelesaikan tulisan bagi penulis pemula adalah 4
bulan. Tapi, ternyata gue bisa menyelesaikan itu dalam waktu separuhnya.
Rasa nggak
percaya dan nggak yakin kalo buku gue layak untuk dibaca, masih bergentayang di
dalam benak gue. Dalam tempo waktu 2
bulan itu, gue menyelesaikan buku ini dengan ketebalan naskah 97 lembar kertas
A4, font Times New Rowman, dan Font size 12. Tulisan mentah gue yang
selesai dalam 2 bulan, membuat gue makin tau diri kalo tulisan gue ini masih
ecek-ecek. Oleh karena itu, sampai detik ini gue masih terus-menerus self editing demi memperbaiki tulisan
gue yang ecek-ecek itu. Di saat gue self
editing, gue mulai berpikiran untuk membuat buku ini nongkrong di rak toko
buku. Entah setan apa yang sedang bersemayam di dalam diri gue, gue merasa
yakin kalo tulisan gue layak untuk diterbitkan dan nongkrong di rak toko buku.
Gue bisa yakin seperti itu, karena tulisan gue ini sengaja gue pendam dan nggak
gue buka-buka selama seminggu lebih untuk gue baca dan nilai sebagai kacamata pembaca
bukan sebagai penulisnya. Saat gue baca tulisan gue, gue terhibur dan ingin
terus buka halaman demi halaman. Hal ini sama kayak gue baca buku-buku yang
udah nongkrong di rak toko buku. Selain gue yang baca, gue juga menyuruh beberapa
teman gue yang maniac novel untuk berkomentar
tentang tulisan gue. Tapi, ada juga teman gue yang nggak bersedia buat baca dan
berkomentar tentang tulisan gue. Mungkin, tulisan gue emang nggak ada
apa-apanya, makanya mereka nggak bersedia.
Komentator maniac novel pertama >>
“Ini beneran lo
yang nulis, Rul?”
“Iya, kenapa?
Gue tau kok, kalo tulisan jelek banget, pasti. Tapi, thanks ya, udah mau baca..”
“Anjay, tulisan
lo gokil parah! Nggak nyangka, gue punya temen macam lo.”
“Ini pujian atau
hinaan, sih? -__-“
“Tulisan lo
bagus. Gokil, segala ada goyang-goyang Caisarnya, hahaha. Sesuai sama trend sekarang.”
“Terima kasih
:’)”
Komentator maniac novel kedua >>
“Anjirr, ngakak
gue baca tulisan lo! HAHAHA”
“Ciyusss, L?”
Jawab gue dengan nada cadel.
“Ciyusss.
Cungguh. Cumpah.”
“Ha Ha Ha Ha.”
Ketawa gue yang sangat terpaksa
Komentator maniac novel ketiga >>
“Kok, kocak sih,
tulisan lo, Rul?”
“Kan, komedi…”
“Oh iya, ya
-__-“
“Otak lemot lo
nggak ilang-ilang -__-. Gimana, menurut lo?”
“Apaan yang
menurut?”
“Allahu akbar… Menurut lo, tulisan gue,
gimana? Komentarin…” Gue mulai banyak nyebut, takut emosi gue terpancing
gara-gara kelemotan teman gue ini.
“Oh, gitu. Gue
kira apaan.”
“Astaghfirloh… Komentarin woy,
komentarin! -_-“ Emosi gue mulai terpancing.
“Oh iya, lupa
hehe. Tulisan lo kocak Rul, tapi edit lagi aja, biar makin kocak dan bagus.”
“Okesip, terima
kasih sarannya :’)”
Dan Alhamdulillah, komentar mereka sangat membangun hasrat gue untuk
menerbitkan tulisan gue itu. Ini yang membuat gue punya keberanian untuk mengirimkan
tulisan jelek gue itu ke publishing
nanti. Tapi, di sisi lain, gue juga merasa nggak percaya diri akan tulisan gue.
Tulisan gue emang dikomentarin yang bagus-bagus sama beberapa temen gue yang maniac novel, tapi itu juga membuat gue
sadar. Tulisan gue mungkin bagus, tapi di luar sana masih BANYAAAK lagi yang
lebih bagus dari gue. Yang ingin tulisannya nongkrong di rak toko buku, nggak
Cuma gue, tapi BANYAAAK. Oleh karena itu, rasa yakin dan nggak percaya diri gue
50:50.
Meskipun gue pernah juara dalam
menulis, rasa nggak percaya diri masih menyelinap di dalam benak gue. Secara,
wawasan gue akan tulisan itu masih rendah banget. Maka dari itu, gue jadi
sering baca buku tentang kepenulisan, supaya gue tau menulis tanda baca, ejaan,
dan lainnya yang benar. Katanya, semakin kita sering menulis, gaya tulisan kita
pun makin membaik.
Oh ya, sekarang naskah buku gue yang
udah gue edit, berubah menjadi 105 halaman. Selama mengerjakan buku ini, banyak
banget hal suka dan duka yang gue lalui. Sukanya, gue bisa menghasilkan tulisan
berlembar-lembar dan membuat orang lain terhibur lewat tulisan gue. Dukanya,
banyak rintangan yang harus gue lewati, komentar-komentar yang menyepelehkan
tulisan gue, netbook gue rusak, abang gue yang menentang gue dalam menulis, sampai draft naskah buku gue yang udah gue
tulis sempat hilang. Itu semua jadi lemon tea
yang memberikan rasa asam manis dalam perjalanan gue menulis buku. Tapi,
perjalanan gue masih panjang. Gue masih punya visi misi yang belum terwujud.
Meskipun, banyak rintangan yang menghadang, gue selalu mencoba melewatinya
dengan lapang dada dan nggak akan membuat gue berhenti untuk menulis. Gue
selalu ingat kutipan yang pernah gue baca, yaitu “When you feel like giving up, remember why you started.” Kutipan
itu selalu gue tanam di dalam diri gue.
Gue ingin jadi pewujud mimpi bukan
sekedar pemimpi. Gue ingin bertanggung jawab untuk mewujudkan mimpi gue itu.
Ya…, semoga aja ikhtiar yang udah gue lakuin berbanding lurus dengan keputusan
Allah nanti. Gue harus udah siap lahir batin dengan apa yang terjadi nanti.
Entah terwujud, atau nggak terwujud sama sekali harus gue terima dengan besar
hati. Intinya, semoga impian gue ini nggak terkikis dengan beriringnya waktu.
Dan semoga publishing incaran gue
(Gagas Media Grup), memuluskan jalan gue untuk jadi pewujud mimpi. Semoga…
Sabtu, 01 Maret 2014
Komika
Dari dulu, gue
udah suka sama stand up comedy. Buat
gue, stand up comedy bisa jadi recommend
obat ampuh dalam menghilangkan mood yang lagi nggak sinkron. Dengan nonton stand up comedy, mood gue bisa kembali
utuh dan normal seperti sedia kala. Tapi itu juga tergantung materi stand up-nya, lucu atau enggak. Kalo
lucu, ya pasti gue langsung ketawa. Kalo
nggak lucu, ya respon gue datar-datar aja. Itu balik lagi sama materi stand up yang bisa menghasilkan tawa
atau enggak.
Comic atau
sekarang yang lebih dikenal dengan sebutan komika, jadi makin banyak berkat
adanya kompetisi stand up comedy
Indonesia. Gara-gara kompetisi itu juga, gue makin menggandrungi stand up comedy. Kalo disuruh milih
sinetron atau stand up comedy, gue
pasti lebih milih stand up comedy
yang bakal gue tonton. Gimana ya, menurut gue, stand up comedy itu tontonan dan hiburan joke yang paling different
dibanding lainnya. Nggak semua orang bisa nge-joke, bahkan stand up.
Itu susahnya minta ampun, karena yang menurut kita lucu, belum tentu menurut
orang lain lucu juga. Makanya, gue cukup angkat jempol terhadap komika yang
bisa membuat orang lain tertawa. Selain sebagai profesi mereka itu yang bisa
menghasilkan uang, mereka juga bisa mengumpulkan tiket ke surga gara-gara
membuat orang lain senang.
Karena gue
penyuka stand up comedy, gue,
pastinya punya komika favorit. Komika favorit gue ada Ge, Babe, dan Mudy.
Gue suka Ge
karena pembawaan gesture dia saat stand up itu asik banget, apalagi di mix dengan beatbox, wah itu bikin materi stand
up dia jadi makin asik.
Kalo Babe, dia
jago banget bikin materi berdasarkan hal-hal yang lagi trend di kalangan masyarakat dan membuat audience jadi tertawa berkat materi stand up-nya yang peka terhadap trend itu.
Mudy juga jago
bikin materi stand up. Lewat
genjrengan gitar dan suaranya yang syahdu dengan syair serta arransement lagu yang dibikin absurd, sukses membuat gue untuk
tertawa.
Dan komika
terfavorit gue, yaitu FICO. Fico, buat gue merupakan komika yang super-super
unik. Penempatan diksi di tiap materi stand up-nya, selalu sukses menghipnotis gue untuk tertawa lepas.
Materi yang dia pake, cukup simple
tapi hasilnya pecah abissssss. Gue aja, nggak pernah terlintas tentang materi
itu saking sederhananya. Dia jago bikin sesuatu yang sederhana jadi WOW. Fico
emang punya sensibilitas komedi yang tinggi, makanya nggak heran tiap dia open mic, pasti selalu banyak tawa yang
dia ciptakan dari materi sederhananya yang pecah itu.
Selain itu, mimik dan gimik dia tiap open mic juga selalu sukses menggelitik gue buat tertawa. Ekspresi dia yang datar cukup ampuh menciptakan tawa. Nggak Cuma mimik, gimik, dan materi dia yang bikin gue terpesona. Ciri khas dia yang selalu mengucapkan “Assalamualaikum” dengan nada lucu di awal open mic-nya, juga nggak kalah menggelitik. Kalo dari look, Fico emang nggak begitu ganteng. Toh, lagian itu menurut gue juga nggak terlalu penting. Yang dinilai dari seorang komika, kan bukan cuma look, melainkan materi stand up-nya yang utama. Tapi, menurut gue sebagai penikmat stand up comedy, dia punya kharismatik yang nggak orang lain punya selain dia. Yang jelas, gue suka materi-materi stand up comedy dia selama ini. Simple to be awesome. ABSURD ABISSSSSSS, HAHAHAHA. Semoga komika terfavorit gue ini, tetep membuat orang lain tertawa lepas dengan bahan materinya yang different itu. Let’s make laugh! ^^
Jumat, 28 Februari 2014
#PrayForAle
Ale. Ale itu
merupakan nama netbook gue. Berdasarkan sumber yang gue baca, Ale
berasal dari istilah French “Cereale”
yang artinya adalah buah. Gue memberi nama tersebut karena unik dan gue punya
filosofi berdasarkan sudut pandang gue sendiri. Gue memilih buah, karena
rasa-rasa buah itu bermacam-macam, ada buah yang manis, asem, dll. Itu gue
anggap, sama kayak netbook gue yang
bisa menimbulkan bermacam-macam rasa di diri gue. Entah kesel, seneng, dll.
Kesel kalo loading-nya lagi lemot.
Seneng kalo lagi nonton film dan game
yang ada di dalam netbook gue itu.
Selain itu, kenapa gue mengambil istilah buah dari bahasa French, itu karena gue suka sama Negara eifel itu. Sama kayak gue
yang suka dengan netbook gue ini. Oleh
karena itu, gue mengibaratkan netbook
gue ini cereale, yang biasa gue
panggil dengan sebutan “Ale.”
Pray, pray,
and pray.
Pray menjadi hal yang makin rutin gue
lakukan, semenjak Ale mengalami malapetaka, yaitu terkena syndrome sel netbook (Baca: Engsel rusak). Malapetaka itu terjadi 2
minggu yang lalu. Waktu itu, gue lagi online di Ale, buat balesin ask.fm,
mention, DM, coment, dll yang menyangkut akun social media gue. Gue emang jarang banget online di Ale. Itu karena posisinya harus selalu duduk yang nggak bisa
tiduran. Dan itu PEGEL -_- Makanya, gue lebih suka online di ipad atau di HP,
karena posisinya bisa sambil tiduran. Kalaupun gue harus online di Ale, itu Cuma saat-saat tertentu dan penting aja. Ale
lebih sering gue pake buat nemenin gue menulis dan ngerjain project. Saat malapetaka itu hampir
terjadi, Ale masih dalam keadaan sehat walafiat
dan nggak menunjukkan tanda-tanda kalo dia bakal terkena syndrome. Setelah, respon-respon di akun social media gue bales, gue memutuskan untuk mengistirahatkan si
Ale yang udah panas. Tapi, di saat gue mulai menutup layarnya Ale, tiba-tiba
terdengar suara “PELETEEEEEK.”
Gue cengo.
Gue shock.
Dan seketika itu
pula, malapetaka terjadi terhadap si Ale. Gue yang udah setengah nggak sadar
karena ngantuk, langsung sadar ketika suara “PELETEEEEEK” itu berkumandang.
Semua perasaan langsung berkecamuk di dalam benak gue. Kesel, sedih, bingung,
kocak, semua melebur jadi satu. Gue kesel karena lagi-lagi ada aja yang harus
gue alami. Gue sedih, karena kasian liat kondisi Ale yang layar bawahnya mangap
seperti ikan lohan. Gue bingung, harus ngapain ngeliat keadaan Ale yang
mengenaskan itu. Gue juga kocak, karena di saat kondisi genting seperti itu,
masih ada aja hal kocak yang terselip wkkwk -.-
Mungkin,
kalo si Ale bisa berbicara, dia bakal mengelus pundak gue sambil bilang,
“Tenang Bos, nggak usah sedih. Aku kuat kok :’)”
Dramatis.
Otak gue jadi
trapesium gara-gara kondisi Ale yang memprihatinkan itu, pola pikir gue jadi
nggak sinkron. Tapi karena rasa ngantuk gue jauh lebih kuat dibanding otak gue
yang mau berpikir gimana caranya menyelamatkan Ale dari jeratan syndrome sel netbook ini, gue memutuskan
untuk tidur.
Lagi-lagi saat
bangun tidur, otak gue dipaksa harus berpikir gimana caranya membebaskan Ale
dari syndrome itu. “Hmmm, gimana ya?”
“Gimana ya, hmmm” “Ya, hmmm gimana?” Itu-itu aja terus yang ada di benak gue
saat itu. Maklum, waktu itu gue baru bangun tidur, makanya nyawa gue belum
terkumpul secara utuh yang mengakibatkan otak dan pola pikir gue jadi ludicrous. Sampai akhirnya, terdengar
suara merdu (Baca: Adzan) dari musholla belakang rumah gue. Berhubung gue itu
adalah anak yang beriman, gue nggak melupakan kewajiban gue sebagai muslimah.
Gue langsung bangun dari terkaman kasur menuju kamar mandi buat wudhu. Oke, gue
sholat.
Selesai sholat,
otak gue udah mulai terbentuk dan nggak trapesium lagi. Pola pikir gue juga
mulai masuk akal dan nggak kacau lagi. Tapi, di saat itu pula gue makin
bergumam. “Duh, duit gue tinggal dikit, gimana mau service?” “ATM gue hampir limit,
gimana mau service?” “Gue kalo minjem
duit ke abang gue, pasti diketawain. Jadi gimana mau service?” “Kalo minta tambahin sama Bokap, pasti kuping gue denger nyanyian
(Di omelin) beberapa jam nonstop, terus
gimana mau service?”
Nggak lain dan
nggak bukan, kata-kata “Gimana mau service?”
selalu menyelinap dalam benak gue. Karena gue udah lelah dengan benak gue yang
kacau, gue berkonsultasi dengan teman gue. At
least, dia bisa jadi penunjuk arah hidup gue dalam menyelamatkan Ale dari syndrome sel netbook. Dan akhirnya, dia
menyarankan gue ke service center
resmi maupun non resmi. Gue langsung
menunaikan saran itu ke esokan harinya. Sebelum menunaikan saran itu, gue
memberanikan diri untuk minjem duit ke abang gue yang lagi telfonan sama
pacarnya di kamar.
“Bang, gue
minjem duit dong. Nanti gue ganti kok, pas awal bulan.”
“Buat apaan?”
“Si Ale terkena syndrome. Gue mau ngajak dia berobat.”
Entah kenapa,
kalimat yang gue gunakan barusan membuat gue jadi absurd -_-
“Hah? Ale? Siapa
itu? Pacar, lo? GUE BILANGIN ABA LO, YA!” Not bicara abang gue mandadak tinggi
seperti Miley cyrus.
“Apaan sih, lo.
Ale itu netbook gue! Nih, tuh liat!
Engselnya udah kepotek. Suka negative
thinking mulu sih, lo. Apa-apa
bilangin aba mulu. Comel banget mulutnya kayak ibu-ibu gossip!” Gue
nyerocos.
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.”
Ketawa dia yang menggelegar
Melihat
perlakuan abang gue yang biadab itu, gue makin beristighfar dan tarik napas.
Kan gawat, kalo emosi gue terpancing. Bisa-bisa, gue nggak dipinjemin duit,
bahkan abang gue bisa membahayakan gue dengan memfitnah yang macam-macam ke
Bokap.
Dengan sifat
kesabaran yang gue miliki, akhirnya gue dipinjemin duit oleh abang gue dengan
rintangan yang mengharuskan gue jadi bahan tertawaan dia.
Selain itu, gue
memberanikan diri juga buat minta tambahan duit ke Bokap. Emang sih, gue
terkesan kaku. Masa sama orang tua sendiri aja, masih takut buat minta. Tapi,
ya inilah gue. Gue sungkan minta apa-apa. Selagi gue bisa beli dengan duit gue
sendiri, gue nggak bakal minta. Kalaupun minta, pasti mintanya nggak utuh dan
ragu-ragu, kayak sekarang ini. Gue Cuma minta nambahin duit gue yang kurang,
buat service si Ale. Dan untungnya,
gue kena omelan Cuma beberapa menit.
Dengan duit
pinjaman abang gue dan duit tambahan dari Bokap, gue langsung bergegas ke service center di salah satu mall daerah bekasi bareng temen gue.
Sebelum ke service center resmi, kita berpetualang mencari tau harga service di beberapa service center non resmi. Harga yang ditawarkan pun bermacam-macam, ada yang 300rb, 450rb, dan 150rb. Temen gue langsung memberi pencerahan terhadap gue akan harga-harga yang ditawarkan dari beberapa service center non resmi itu.
“Rul, yang tadi
itu kok murah banget, ya?” Bisik temen gue.
“Iya, ya?”
“Masa dia 150rb,
di sini 450rb. Jangan-jangan nanti pas service,
netbook lo di otak-atik dan diganti
dalemnya rul. Gue rasa kita mending langsung yang pasti dan aman aja, deh. Kita
ke service center resmi aja.”
“(Ngangguk-nganggukin
kepala)”
Gue dan temen
gue pun langsung menuju service center
resmi. Dan ternyata, stok barang buat gantiin engsel Ale yang rusak itu udah
abis dan nggak di produksi lagi. Saat itu, gue mau nangis, mau teriak, pokokya
sedih bingitssss. Tapi, gue harus tetep terlihat tenang. Saat itu juga gue menyebut, “ALL IZ WELL” berkali-kali. Gue mulai
putus asa dan hilang arah buat bikin si Ale sehat walafiat lagi. Tapi temen gue berusaha menghibur gue dan mengajak
gue ke service center yang lain. Gue
pun mengiyakan.
“Om, netbook temen saya engselnya rusak nih.
Nah, kalo di service berapa deh, om?”
Kata temen gue.
Om-om service center-nya langsung
menggerayangi si Ale.
“Oh, kalo ini
mah harus diganti casing juga. Kalo
harga, biasanya 1jt dek.”
“HAH? Tapi ini
sehat walafiat kok om sebenernya. Di
idupin masih normal tampilannya, ini Cuma engselnya yang bikin susah buka dan
nutup layarnya om. Om jangan bercanda dong, om. Om serius dikit dong.” Gue
nyerocos.
“Iya, ini
serius. Nggak bercanda.”
“Yaaaaahhhhhh
om.” Suara gue mulai melemas dan nggak bertenaga.
“Kalo gitu dek,
mending beli yang baru.”
“Yaudah deh,
liat takdir nanti. Kasih tips aja deh, dong om gimana nutup dan buka layar ini
dengan aman.”
Om-om service langsung nunjukkin cara membuka
dan menutup layar netbook yang
engselnya rusak. Dan gue langsung mempratekkannya.
“Yaudah om,
makasih banyak ya om atas tipsnya. Makasih, makasih, makasih. Doain ya om,
supaya netbook saya cepet sembuh.”
Gara-gara Ale
rusak, gue jadi terlihat bego -_-
“Iya dek,
sama-sama. Hati-hati aja makenya.”
Keluar dari service center itu, gue sebagai pemilik
syah Ale, Cuma bisa mellow dan ikut
prihatin karena syndrome yang sedang
menimpanya sekarang. Bahkan, hati gue bagai ketusuk ribuan peniti tiap liat
keadaan Ale yang mengenaskan dan denger biaya service-nya. Mau nangis, sih sebenernya. Tapi, gue harus tetep stay cool.
Gue bingung, harus
gimana. Kalo biaya service-nya sejuta,
mending gue beli baru, terus si Ale gue alih fungsikan jadi PC dengan nggak
nutup-nutup layarnya lagi. Tapi di sisi lain, Ale itu kan udah kayak sohib gue.
Gue sama dia udah bareng-bareng sejak gue kelas 2 SMA. Susah seneng, gue bareng
dia. Dia yang ngehibur gue kalo lagi bete dengan film-film yang ada di dia. Dia
juga yang bikin tugas-tugas sekolah gue terasa mudah. Dia juga loh, yang bikin
gue nambah wawasan. Dan yang paling penting, dia itu jadi saksi bisu dalam perjalanan
karir sastra gue, terutama menulis. Nggak ada dia, gue nggak akan bisa kayak
sekarang. Mana semua project dan
naskah gue ada dia semua, gue susah move
on dari si Ale. Pokoknya, Ale selalu setia nemenin gue dalam kondisi suka
maupun duka. Nggak ada Ale, mungkin nggak bakal ada juga project dan naskah gue kayak sekarang. Bingung, harus gimana.
Oke, fix. Dengan berat hati, gue memutuskan
untuk nggak menservice Ale dalam jangka
waktu tertentu dan mengalih fungsikan dia sebagai PC yang layarnya nggak akan
gue tutup-tutup. Maybe someday, kalo
ada rejeki, gue bakal menservice dia
dan menyimpannya baik-baik sebagai saksi bisu perjuangan gue dari nol. #PrayForAle
Mungkin, bisa jadi rusaknya Ale ini adalah salah satu rintangan yang harus gue lewati lagi buat wujutin angan-angan sebagai penulis, karena kegiatan menulis gue jadi rada terhambat. Nggak munafik, dengan kondisi Ale yang terkena syndrome sel netbook, secara nggak langsung membuat konsistensi menulis gue mengalami pasang surut. Tapi yang jelas, gue nggak akan berhenti buat nulis. Kalaupun nantinya emang skenario Allah membuat gue jauh dari angan-angan itu, gue pasti terima. Karena serapih-rapihnya gue ngatur skenario hidup gue, skenario Allah jauh lebih rapih. Tapi, selama gue enjoy dan nggak ngusik hidup orang, gue akan terus menulis apa yang ingin gue tulis. Nongol di rak toko buku atau enggak, itu biar skenario Allah yang ngatur. Gue Cuma bisa ikhtiar dan berdoa. Gue percaya, yang namanya ikhtiar nggak ada yang sia-sia, meskipun nantinya gagal. Karena sampai detik ini, gue masih belum lelah untuk menggenggam impian dan percaya pada harapan.
I have a dream and I believe it.
Sabtu, 14 Desember 2013
Happy Mother's Day - I Miss You Mom
Untuk ibu, yang selalu aku rindukan di tiap hembusan napas ku.
Untuk ibu, yang selalu aku ingat di tiap doa ku.
Untu ibu, yang selalu aku banggakan di tiap detik ku.
Untuk ibu yang tak pernah lelah mendidik ku, yang selalu ada di saat aku terpuruk, selalu berdoa untuk anaknya, selalu tegar meski derasnya masalah yang datang dan yang selalu tersenyum di balik kesedihannya yang begitu dalam. Aku persembahkan untukmu ibu yang seperti wonder women ku, sebuah karya yang tak lebih dari sekedar sampah, untuk melukiskan bahwa aku sangat bangga terhadapmu dan sangat rindu akan belaian kasih sayangmu :')
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)
.jpg)

.jpg)



